Memuat…
DINAS KESEHATAN
Detail Inovasi OPD

SEMAR BETUL (Semarang Berantas Tuberkulosis)

Klik gambar untuk tampilan penuh
Rancang Bangun & Perubahan

Tuberkulosis (TB) masih menjadi salah satu permasalahan kesehatan masyarakat yang memerlukan penanganan secara komprehensif. Penyakit ini dapat menyerang seluruh kelompok usia, terutama usia produktif, sehingga berdampak terhadap kondisi kesehatan, produktivitas kerja, kualitas hidup masyarakat, serta berpotensi meningkatkan beban ekonomi keluarga. Selain itu, penularan TB yang masih terjadi di lingkungan keluarga dan masyarakat menunjukkan bahwa upaya pengendalian belum dapat dilakukan hanya melalui pelayanan kesehatan di fasilitas kesehatan.

Dalam pelaksanaan Program Penanggulangan Tuberkulosis di Kota Semarang, masih ditemukan beberapa tantangan, antara lain belum optimalnya penemuan kasus secara aktif, masih adanya pasien yang terlambat atau putus berobat (Lost to Follow Up/LTFU), belum optimalnya pelaksanaan investigasi kontak, keterbatasan pemantauan pasien berdasarkan wilayah tempat tinggal, serta belum terintegrasinya informasi pasien TB secara cepat antara fasilitas pelayanan kesehatan dengan Puskesmas sebagai penanggung jawab wilayah. Kondisi tersebut menyebabkan proses pendampingan pasien belum berjalan secara maksimal sehingga berpotensi meningkatkan risiko penularan dan menurunkan keberhasilan pengobatan.

Dari kondisi tersebut, Dinas Kesehatan Kota Semarang mengembangkan inovasi SEMAR BETUL (Semarang Berantas Tuberkulosis) sebagai model pengendalian TB berbasis kewilayahan yang mengintegrasikan pelayanan kesehatan, surveilans, investigasi kontak, pemantauan pengobatan, serta sistem informasi digital dalam satu mekanisme yang terkoordinasi. Inovasi ini menempatkan Puskesmas sebagai koordinator utama pengendalian TB di wilayah kerjanya.

Melalui SEMAR BETUL, setiap pasien TB yang terdiagnosis akan langsung terpetakan berdasarkan domisili sehingga Puskesmas dapat segera melakukan verifikasi, investigasi kontak serumah maupun kontak erat, memberikan edukasi kepada keluarga, melakukan pemantauan kepatuhan minum obat, serta melakukan tindak lanjut apabila pasien berisiko mangkir. Seluruh proses tersebut didukung oleh sistem informasi digital yang mampu menyajikan data secara real time, sehingga memudahkan koordinasi antar fasilitas pelayanan kesehatan dan mempercepat pengambilan keputusan program.

Pokok perubahan yang dihadirkan melalui SEMAR BETUL adalah perubahan paradigma dari pelayanan TB yang sebelumnya berfokus pada fasilitas kesehatan menjadi pelayanan berbasis wilayah yang bersifat proaktif. Jika sebelumnya Puskesmas hanya menangani pasien yang datang berobat, kini Puskesmas memiliki peran aktif dalam memantau seluruh pasien TB yang berdomisili di wilayah kerjanya, melakukan penelusuran kontak, mengawal keberhasilan pengobatan hingga pasien dinyatakan sembuh, serta mencegah terjadinya penularan di masyarakat.

Keunggulan SEMAR BETUL terletak pada integrasi data pasien secara real time, pemetaan kasus berdasarkan wilayah, pemantauan pengobatan yang berkesinambungan, sistem peringatan dini terhadap pasien yang berisiko putus berobat, serta penguatan kolaborasi lintas sektor. Dengan pendekatan tersebut, pelaksanaan program menjadi lebih cepat, tepat sasaran, mudah dipantau, serta meningkatkan efektivitas pengendalian TB di Kota Semarang.

Melalui implementasi SEMAR BETUL, pengendalian Tuberkulosis tidak lagi hanya berorientasi pada pengobatan pasien, tetapi juga pada pencegahan penularan, perlindungan keluarga, peningkatan keberhasilan pengobatan, dan percepatan pencapaian target eliminasi Tuberkulosis melalui pelayanan yang terintegrasi, berbasis data, dan berkelanjutan.

Sebelum adanya inovasi SEMAR BETUL (Semarang Berantas Tuberkulosis), penanganan TB masih berpusat pada fasilitas pelayanan kesehatan sehingga Puskesmas belum dapat memantau secara optimal seluruh pasien TB yang berdomisili di wilayah kerjanya. Kondisi tersebut menyebabkan masih ditemukannya pasien yang terlambat minum obat, putus berobat (Lost to Follow Up), investigasi kontak yang belum optimal, serta keterlambatan tindak lanjut terhadap pasien berisiko. Selain itu, data pasien dari rumah sakit, klinik, laboratorium, dan Puskesmas belum terintegrasi secara cepat sehingga koordinasi penanganan kasus belum berjalan maksimal.

Berangkat dari permasalahan tersebut, Dinas Kesehatan Kota Semarang mengembangkan inovasi SEMAR BETUL (Semarang Berantas Tuberkulosis) sebagai model pengendalian TB berbasis kewilayahan yang terintegrasi dengan sistem informasi digital. Inovasi ini menempatkan Puskesmas sebagai penanggung jawab pengendalian TB di wilayah kerjanya melalui pemetaan pasien berdasarkan domisili, investigasi kontak serumah dan kontak erat, pemantauan kepatuhan minum obat, penanganan pasien yang berisiko putus berobat, serta koordinasi lintas fasilitas pelayanan kesehatan secara real time.

Pokok perubahan yang dihadirkan SEMAR BETUL adalah perubahan paradigma dari pelayanan TB yang sebelumnya bersifat pasif menjadi pengendalian berbasis wilayah yang proaktif. Setiap pasien yang terdiagnosis akan langsung terpetakan sesuai wilayah tempat tinggal sehingga Puskesmas dapat segera melakukan kunjungan, edukasi keluarga, penelusuran kontak, dan pendampingan hingga pasien menyelesaikan pengobatan. Seluruh proses tersebut tercatat dalam sistem informasi digital sehingga data menjadi lebih cepat, akurat, mudah dipantau, dan menjadi dasar pengambilan keputusan program.

Dengan pendekatan tersebut, pengendalian TB di Kota Semarang menjadi lebih efektif karena tidak hanya berfokus pada pengobatan pasien, tetapi juga pada pencegahan penularan, peningkatan keberhasilan pengobatan, penurunan angka putus berobat, serta percepatan pencapaian target eliminasi Tuberkulosis melalui kolaborasi lintas sektor dan pemanfaatan teknologi informasi.

Berdasarkan hasil monitoring dan evaluasi Program Tuberkulosis Kota Semarang tahun 2024–2025, masih terdapat beberapa indikator yang memerlukan penguatan dalam rangka mencapai target eliminasi Tuberkulosis, antara lain:

  1. Treatment Success Rate (TSR) sebesar ... %, masih perlu ditingkatkan untuk mencapai target nasional ≥90%.
  2. Lost to Follow Up (LTFU) sebesar ... %, yang menunjukkan masih adanya pasien yang menghentikan pengobatan sebelum selesai.
  3. Case Fatality Rate (CFR) sebesar ... %, yang masih memerlukan upaya peningkatan deteksi dini dan tata laksana yang lebih cepat.
  4. Cakupan Investigasi Kontak sebesar ... %, sehingga masih terdapat kontak serumah maupun kontak erat yang belum seluruhnya dilakukan skrining.
Tujuan Inovasi

Inovasi SEMAR BETUL (Semarang Berantas Tuberkulosis) bertujuan mewujudkan pengendalian Tuberkulosis (TB) yang cepat, terintegrasi, berbasis kewilayahan, dan berkelanjutan melalui pemanfaatan sistem informasi digital serta penguatan kolaborasi lintas sektor. Inovasi ini dikembangkan untuk memastikan setiap pasien Tuberkulosis memperoleh pendampingan secara menyeluruh sejak terdiagnosis hingga menyelesaikan pengobatan, sekaligus mencegah penularan di lingkungan keluarga dan masyarakat.

Secara khusus, tujuan inovasi SEMAR BETUL adalah sebagai berikut:

  1. Menurunkan angka kematian akibat Tuberkulosis (Case Fatality Rate/CFR) melalui deteksi dini, pemantauan pengobatan, dan tindak lanjut pasien secara berkesinambungan.
  2. Meningkatkan angka keberhasilan pengobatan (Treatment Success Rate/TSR) dengan memastikan seluruh pasien menyelesaikan pengobatan sesuai standar nasional.
  3. Meningkatkan cakupan pengobatan (Treatment Coverage) melalui penemuan kasus secara aktif, pelacakan kontak, dan penguatan jejaring pelayanan kesehatan.
  4. Menurunkan angka pasien yang putus berobat (Lost to Follow Up/LTFU) melalui sistem pemantauan, kunjungan rumah, pendampingan oleh Puskesmas, PMO, dan kader kesehatan.
  5. Meningkatkan cakupan investigasi kontak terhadap seluruh kontak serumah maupun kontak erat sehingga penularan Tuberkulosis dapat ditemukan dan ditangani lebih dini.
  6. Mengintegrasikan data Tuberkulosis dari rumah sakit, Puskesmas, klinik, laboratorium, dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya dalam satu sistem informasi berbasis digital yang menyajikan data secara real time untuk mendukung pengambilan keputusan.
  7. Memperkuat peran Puskesmas sebagai penanggung jawab pengendalian Tuberkulosis di wilayah kerjanya melalui pendekatan berbasis domisili pasien.
  8. Meningkatkan koordinasi dan kolaborasi lintas sektor, termasuk pemerintah daerah, fasilitas pelayanan kesehatan, organisasi profesi, kader kesehatan, pemerintah kelurahan, serta masyarakat dalam upaya eliminasi Tuberkulosis.
  9. Mendukung pencapaian target nasional eliminasi Tuberkulosis melalui peningkatan kualitas pelayanan, penguatan surveilans, dan pemanfaatan teknologi informasi dalam pengendalian penyakit.

Melalui SEMAR BETUL, penanganan Tuberkulosis di Kota Semarang tidak lagi hanya berfokus pada pelayanan di fasilitas kesehatan, tetapi bertransformasi menjadi pengendalian berbasis wilayah yang proaktif, di mana setiap pasien beserta kontak eratnya dapat dipantau secara berkelanjutan hingga pengobatan selesai. Pendekatan ini diharapkan mampu meningkatkan cakupan pengobatan hingga di atas 90%, meningkatkan keberhasilan pengobatan, menurunkan angka kematian, menekan kejadian putus berobat dan gagal pengobatan, serta pada akhirnya meningkatkan produktivitas masyarakat dan berkontribusi terhadap penurunan angka kemiskinan di Kota Semarang.

Manfaat Inovasi

Implementasi inovasi SEMAR BETUL (Semarang Berantas Tuberkulosis) memberikan manfaat yang signifikan dalam meningkatkan kualitas pelayanan penanggulangan Tuberkulosis di Kota Semarang. Melalui pendekatan berbasis kewilayahan yang terintegrasi dengan sistem informasi digital, penanganan pasien menjadi lebih cepat, tepat sasaran, berkelanjutan, dan mudah dipantau oleh seluruh jejaring pelayanan kesehatan.

Manfaat yang diperoleh dari implementasi SEMAR BETUL antara lain:

  1. Meningkatkan keberhasilan pengobatan pasien Tuberkulosis, yang ditunjukkan dengan meningkatnya Treatment Success Rate (TSR) menjadi 82,23%, karena pasien memperoleh pendampingan secara berkesinambungan mulai dari diagnosis hingga dinyatakan sembuh.
  2. Menurunkan angka kematian akibat Tuberkulosis, di mana Case Fatality Rate (CFR) menurun menjadi 2,09%, atau sebanyak 25 kematian dari 1.199 kasus TB hingga April 2023, sebagai hasil dari deteksi dini, pemantauan pengobatan, dan tindak lanjut pasien yang lebih optimal.
  3. Meningkatkan cakupan pengobatan (Treatment Coverage) hingga 100,52?ri target estimasi Kementerian Kesehatan pada tahun 2022, menunjukkan semakin banyak penderita TB yang berhasil ditemukan dan mendapatkan pengobatan sesuai standar.
  4. Menurunkan angka gagal pengobatan menjadi 0,1%, melalui sistem pemantauan pasien, kunjungan rumah, pendampingan oleh Puskesmas, Pengawas Menelan Obat (PMO), dan kader kesehatan sehingga risiko putus berobat dapat diminimalkan.
  5. Meningkatkan cakupan investigasi kontak, sehingga anggota keluarga dan kontak erat pasien dapat segera dilakukan skrining, pemeriksaan, dan pemberian terapi pencegahan Tuberkulosis (TPT) apabila memenuhi kriteria. Langkah ini berkontribusi dalam memutus rantai penularan di masyarakat.
  6. Memperkuat peran Puskesmas sebagai penanggung jawab kesehatan wilayah, karena setiap pasien TB yang berdomisili di wilayah kerja Puskesmas dapat dipantau secara aktif, termasuk pelaksanaan investigasi kontak, kunjungan rumah, pemantauan kepatuhan minum obat, serta tindak lanjut terhadap pasien yang berisiko mangkir.
  7. Meningkatkan kualitas pencatatan dan pelaporan program TB melalui sistem informasi SEMAR BETUL yang menyajikan data secara real time, sehingga mempercepat koordinasi antara rumah sakit, Puskesmas, laboratorium, dan Dinas Kesehatan serta mendukung pengambilan keputusan berbasis data.
  8. Meningkatkan efektivitas pengendalian Tuberkulosis berbasis kewilayahan, karena setiap kasus dapat dipetakan berdasarkan domisili sehingga wilayah dengan risiko tinggi dapat diprioritaskan untuk skrining aktif, investigasi kontak, promosi kesehatan, dan intervensi lainnya.
  9. Memberikan dampak sosial dan ekonomi bagi masyarakat, karena keberhasilan pengobatan memungkinkan pasien kembali produktif setelah menyelesaikan terapi. Inovasi ini turut mendukung upaya penurunan angka kemiskinan di Kota Semarang melalui berkurangnya kehilangan produktivitas akibat penyakit Tuberkulosis.

Melalui berbagai manfaat tersebut, SEMAR BETUL tidak hanya meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan, tetapi juga memperkuat sistem surveilans Tuberkulosis, mempercepat pengambilan keputusan berbasis data, mencegah penularan di masyarakat, serta mendukung percepatan pencapaian target eliminasi Tuberkulosis di Kota Semarang.

Hasil Inovasi

Sejak diimplementasikan pada tahun 2019, inovasi SEMAR BETUL (Semarang Berantas Tuberkulosis) telah memberikan perubahan yang nyata terhadap tata kelola Program Penanggulangan Tuberkulosis di Kota Semarang. Pendekatan pengendalian berbasis kewilayahan yang didukung sistem informasi digital telah meningkatkan efektivitas penemuan kasus, pemantauan pengobatan, investigasi kontak, serta koordinasi antar fasilitas pelayanan kesehatan.

Beberapa hasil yang telah dicapai melalui implementasi SEMAR BETUL antara lain:

  1. Meningkatkan penemuan kasus Tuberkulosis (Case Detection). Pada tahun 2023, Kota Semarang berhasil menemukan 6.527 kasus TB, dengan capaian Treatment Coverage sebesar 105,27%, melampaui target estimasi nasional. Hal ini menunjukkan semakin banyak penderita TB yang berhasil ditemukan dan mendapatkan pengobatan sesuai standar.
  2. Meningkatkan keberhasilan pengobatan (Treatment Success Rate/TSR). Keberhasilan pengobatan pasien TB meningkat menjadi 84,8%, menunjukkan semakin banyak pasien yang berhasil menyelesaikan terapi hingga sembuh berkat pendampingan yang lebih intensif melalui Puskesmas dan jejaring pelayanan kesehatan.
  3. Menurunkan angka kematian akibat Tuberkulosis. Implementasi pemantauan pasien berbasis wilayah, deteksi dini, serta tindak lanjut yang cepat berkontribusi terhadap penurunan Case Fatality Rate (CFR) dibandingkan sebelum inovasi diterapkan.
  4. Menurunkan angka pasien putus berobat (Lost to Follow Up/LTFU). Sistem pemantauan digital memungkinkan petugas kesehatan mendeteksi pasien yang terlambat kontrol atau berisiko mangkir sehingga dapat segera dilakukan kunjungan rumah dan pendampingan. Kondisi ini berdampak pada semakin rendahnya angka putus berobat dari tahun ke tahun.
  5. Meningkatkan cakupan investigasi kontak. Setiap pasien TB dipetakan berdasarkan domisili sehingga Puskesmas dapat segera melakukan investigasi kontak serumah maupun kontak erat, skrining TB, serta pemberian Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) bagi kontak yang memenuhi syarat. Langkah ini mempercepat pemutusan rantai penularan di masyarakat.
  6. Mewujudkan sistem informasi TB berbasis wilayah secara real time. Seluruh data pasien dari rumah sakit, Puskesmas, laboratorium, dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya terintegrasi sehingga mempermudah pemantauan kasus, pelaporan, analisis wilayah berisiko, dan pengambilan keputusan oleh Dinas Kesehatan Kota Semarang.
  7. Memperkuat kolaborasi lintas sektor. Melalui pendekatan pentahelix, SEMAR BETUL melibatkan pemerintah, fasilitas pelayanan kesehatan, akademisi, komunitas, dunia usaha, dan media dalam upaya penemuan kasus, edukasi masyarakat, investigasi kontak, serta pendampingan pasien.
  8. Meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan. Penanganan pasien menjadi lebih cepat, lebih tepat sasaran, lebih mudah dipantau, dan berkelanjutan karena setiap pasien dipantau berdasarkan wilayah tempat tinggal hingga menyelesaikan pengobatan.

Secara keseluruhan, SEMAR BETUL telah mengubah paradigma penanggulangan Tuberkulosis di Kota Semarang dari pelayanan yang sebelumnya berfokus pada fasilitas kesehatan menjadi pengendalian berbasis wilayah yang proaktif, terintegrasi, dan berbasis data. Inovasi ini tidak hanya meningkatkan capaian indikator program Tuberkulosis, tetapi juga memperkuat sistem surveilans, mempercepat pengambilan keputusan, mengurangi risiko penularan di masyarakat, serta mendukung percepatan pencapaian target eliminasi Tuberkulosis di Kota Semarang.

Tahapan
Penerapan
Uji Coba
2019-04-20
Implementasi
2020-01-01