UU No. 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan mengatur upaya Kesehatan jiwa yang menyeluruh, terpadu dan berkesinambungan. Upaya tersebut dilakukan oleh Pemerintah Pusat, daerah dan Masyarakat. Kesehatan jiwa merupakan kondisi dimana seorang individu dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual, dan sosial sehingga individu tersebut menyadari kemampuan sendiri, dapat mengatasi tekanan, dapat bekerja secara produktif, dan mampu memberikan kontribusi untuk komunitasnya.
Upaya untuk mengatasi masalah kesehatan jiwa telah tertuang dalam Sustainable Development Goals (SDGs) yang merupakan komitmen nasional di semua negara yaitu menurunkan angka kematian akibat bunuh diri. Upaya pelaksanaan target SDGs di Indonesia dilakukan dengan memberikan pelayanan kesehatan bagi Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) sesuai dengan Standar Pelayanan Minimal (SPM).
Namun, Kesehatan jiwa sering dianggap sebagai sesuatu yang kurang penting dibanding Kesehatan fisik. Stigma negatif dari Masyarakat untuk orang dengan gangguan jiwa menjadi kendala dalam tatalaksana pengobatan. Satu dari empat orang atau sekitar 25% warga Jawa Tengah mengalami gangguan jiwa ringan. Kondisi tersebut harus mendapatkan penanganan serius dari pemerintah ataupun Masyarakat.
Data Riskesdas 2018 mengungkapkan prevalensi gangguan depresi remaja 6.1?n 91% penderita depresi tidak berobat. Permasalahan gangguan Kesehatan mental remaja di Kota Semarang sebanyak 935 kasus, 29% merupakan gangguan depresi. Data remaja yang mendapatkan pengobatan akibat gangguan mental di RSWN hanya sebesar 48 pasien atau sebesar 1 ?ri jumlah depresi. Pemeriksaan Kesehatan mental remaja dilakukan oleh 37 puskesmas Kota Semarang menggunakan instrument SRQ (4-11 tahun) dan SDQ (>18 tahun) dengan capaian di tahun 2022 sebanyak 36%, namun tindak lanjut apabila ditemukan gangguan belum di tangani secara komprehensif. Apabila tidak di tangani, dapat menyebabkan gangguan kondisi kejiwaan dan meningkatkan angka bunuh diri.
Berdasarkan isu permasalahan diatas maka RSD K.R.M.T. Wongsonegoro Kota Semarang (RSWN) menciptakan Inovasi “MAS TADIN SULTAN MATARAM” Rumah Sakit Tanpa Dinding Sebagai Pusat Layanan Konsultasi, Terapi Dan Rehabilitasi Kesehatan Mental Remaja Untuk Tingkatkan Generasi Emas Kota Semarang. Inovasi ini sangat tepat digunakan untuk menjawab persoalan dan menjadi solusi percepatan penurunan prevalensi gangguan mental dengan meningkatnya skrining Kesehatan mental (70% tahun 2024) dan meningkatnya ODGJ yang di layani (100% tahun 2024) yaitu dengan melakukan Skrining kesehatan mental.
Inovasi ini selaras dengan Misi Asta Cita ke-4: Memperkuat pembangunan SDM, sains, teknologi, pendidikan, Kesehatan, prestasi olahraga, kesetaraan gender serta penguatan peran Perempuan dan pemuda dan penyandang disabilitas, serta sesuai dengan target kinerja RPJMD Tahun 2021-2026 yaitu Meningkatkan kualitas dan pemerataan pelayanan kesehatan, direalisasikan dengan tercapainya pemeriksaan Kesehatan gratis dengan skrining Kesehatan mental yang mudah di akses oleh remaja sehingga meningkatkan capaian dari 29% menjadi 70%, penanganan ODGJ berat, penurunan angka bunuh diri pada remaja turun di bawah 1.3% per 100 kematian dengan kemudahan akses layanan Kesehatan mental yang paripurna bagi remaja. Peningkatan indeks pembangunan manusia dan kualitas rumah sakit direalisasikan dengan meningkatnya jumlah kunjungan poli jiwa RSWN dengan adanya pelayanan One stop service bagi remaja.
Inovasi ini memiliki beberapa keunggulan dan kebaharuan :
1.KEUNIKAN :
Instrumen Skrining SRQ, SDQ dan Hamilton sebagai deteksi dini kesehatan mental remaja. Mengelompokan hasil skrining menjadi normal, ringan, sedang dan berat untuk memudahkan tatalaksana pengobatan.
Tatalaksana Pengobatan dengan kategori hasil skrining:
a). Normal: kelas motivasi Kesehatan mental oleh Puskesmas dan RSWN
b). Ringan : konseling oleh guru BK atau konselor sebaya.
c). Sedang: Konseling dan pengobatan di Puskesmas atau Rumah Duta Revolusi Mental
d). Berat: konseling dan pengobatan di RSWN. Monitoring dan Evaluasi capaian skrining di masing-masing institusi.
2. NILAI TAMBAH :
a. Keunggulan sistem
kemudahan akses dalam melakukan skrining yang terdapat dalam aplikasi MyRSWN sehingga dapat dilakukan kapanpun dan dimanapun oleh remaja. Inovasi ini bekerja melalui sistem layanan terpadu yang responsif, implementatif, dan kolaboratif.
b. Replikasi
Inovasi ini memiliki potensi replikasi yang tinggi secara nasional karena Kesehatan mental menjadi permasalahan diseluruh Kab/Kota. Angka kejadian bunuh diri diatas 1.3 per 100 kematian. Pencapaian SPM penanganan ODGJ Berat dilakukan oleh rumah sakit daerah mendukung Renstra Dinas Kesehatan yang berpedoman RPJMD 2021-2026. Dari sisi ide gagasan, inovasi ini mampu menjawab persoalan dan menjadi solusi permasalahan Kesehatan mental remaja disemarang. Dari sisi teknis, berpedoman pada kemudahan akses dalam melakukan skrining dan pelayanan ramah remaja di fasilitas Kesehatan. Dari Sisi manajerial, inovasi ini merupakan kolaborasi antara RSWN dengan semua institusi yang memiliki usia remaja.
Inovasi ini relevan diterapkan diberbagai RS dan wilayah. Terbukti Rumah Sakit di Jateng dan Puskesmas di Kota Semarang mereplikasi inovasi ini. Pada skala nasional, inovasi ini mendukung pelaksanaan Program Presiden Asta Cita yaitu meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia, dan Visi Jawa Tengah Maju dan Berkelanjutan dengan indikator Pilar Pembangunan Daerah Transformasi Sosial yaitu meningkatkan indeks modal manusia.
c. Publikasi Inovasi
Inovasi dipublikasi melalui media sosial milik RSWN, Pemerintah Kota Semarang dan media online untuk penyebaran keberhasilan inovasi MAS TADIN SULTAN MATARAM.
Transfer pengetahuan melalui bimbingan teknis, Focus Grup Disscusion dan seminar kesehatan kepada Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, Rumah Sakit Swasta, Sekolah Tingkat SLTP dan SLTA, serta kader Kesehatan di 16 Kecamatan Kota Semarang. Selain itu Pembelajaran dan pendampingan kepada konselor sebaya dan kader yang memberikan konseling di Rumah Inspirasi. Standar Prosedur Operasional (SOP) dan modul layanan dibagikan sebagai Pembelajaran dan referensi untuk Rumah Sakit yang melakukan studi tiru inovasi MAS TADIN SULTAN MATARAM.
3. KEBAHARUAN INOVASI
Inovasi ini dikembangkan dan diimplementasikan sejak diterbitkannya SK Direktur Nomor 531 Tahun 2023 tentang Inovasi “MAS TADIN SULTAN MATARAM” pada tahun 2024 terdapat kebaharuan untuk mendukung inovasi ini yaitu :
3. Pembaharuan sistem
Pada tahun 2023, Pelaksanaan skrining dengan cara mengakses google form, kemudian pada tahun 2024 terdapat pembaruan sistem menggunakan Aplikasi berbasis Android, dan perubahan tim inovasi untuk mendukung pelaksanaan inovasi dan kolaborasi antar profesi.
b. Kolaborasi berbagai pihak
Pada Tahun 2024, Inovasi ini menghadirkan adanya kolaborasi semua institusi yang memiliki usia remaja. Sehingga semua remaja di Kota Semarang dapat terpantau untuk melakukan skrining. Layanan telemedicine oleh tenaga medis RSWN yang dapat diakses setelah melakukan skrining dapat menghindari self diagnose dan mencegah tatalaksana terapi yang tidak adekuat.
MAS TADIN SULTAN MATARAM berfokus pada keterlibatan aktif guru, penanggung jawab remaja dan remaja itu sendiri dalam melakukan skrining Kesehatan mental dilanjutkan dengan intervensi dari hasil skrining sesuai dengan tingkatan permasalahannya. Berbeda dengan pendekatan sebelumnya yang bersifat pasif dan internal di lingkungan sekolah formal, MASTADIN SULTAN MATARAM memberikan pelayanan yang paripurna dari permasalahan Kesehatan mental di usia remaja, baik yang berada di lingkungan Pendidikan formal maupun lingkungan non formal.
Kolaborasi antar pihak dengan peran di masing-masing diatur dalam SE Walikota No. B/1158/400.7.2.1/VII/2024 Tahun 2024 Tentang Layanan Konsultasi, Terapi, dan Rehabilitasi Kesehatan Mental Remaja di Kota Semarang, yang bertujuan Memantau remaja untuk melakukan skrining, memastikan bahwa seluruh remaja yang mengalami gangguan mental mendapatkan tatalaksana terapi yang komprehensif serta keberlanjutan dalam pelayanan Kesehatan jiwa pada remaja sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup remaja sebagai generasi muda yang akan mewujudkan Indonesia Emas di tahun 2045.
Scaling up dilakukan oleh Pemerintah Kota Semarang di buktikan dengan surat Scaling Up dari PJ Sekda Kota Semarang dengan membuat Rumah Inspirasi untuk skrining dan pelayanan Kesehatan mental dan disabilitas pada 16 Kecamatan di Kota Semarang yang bekerjasama dengan Rumah Sakit di masing-masing wilayah Kecamatan.
Keberhasilan inovasi ini didukung oleh berbagai pihak yang memiliki peran strategis. Wali Kota berperan sebagai inisiator dalam scaling up di OPD Kota Semarang, sedangkan Direktur RSWN berperan sebagai pelaksana utama dalam pelayanan ramah remaja di Rumah Sakit. Dinas Pendidikan sebagai mitra yang mendukung inovasi karena sebagain besar usia remaja ada di sekolah formal. Dinas Kesehatan berperan dalam mengatur regulasi dan kebijakan untuk seluruh Fasilitas Kesehatan khususnya swasta untuk membuka layanan ramah remaja. Camat memiliki peran sebagai pembina dalam pelaksanaan program karang taruna dan remaja tingkat kecamatan.
c. Layanan terpadu ramah remaja. RSWN menyediakan pelayanan rawat jalan ramah remaja “Klinik Remaja Prioritas”.
Beberapa tahapan dalam pelaksanaan Inovasi ini yaitu:
Inovasi MAS TADIN SULTAN MATARAM bertujuan untuk menurunkan prevalensi gangguan depresi pada remaja, meningkatkan skrining Kesehatan mental, mempercepat penanganan dan meningkatkan indeks Pembangunan manusia di Kota Semarang.
Outcome yang diharapkan:
Output yang diharapkan:
Inovasi ini berhasil menjawab tantangan global permasalahan kesehatan mental remaja di Jateng, khususnya Semarang yang setiap tahunnya semakin meningkat. Adanya peningkatan kasus bunuh diri pada remaja akibat gangguan Kesehatan mental dapat menurunkan capaian penanganan ODGJ berat disemarang yang menjadi salah satu indikator Kinerja daerah RPJMD 2021-2026. Berikut perbandingan kondisi sebelum dan sesudah inovasi:
|
No
|
Indikator |
Sebelum Inovasi (2022) |
Sesudah Inovasi (2024) |
Keterangan |
|
|
1. |
Capaian Screening Kesehatan Mental |
29 % |
70% |
Mencapai target |
|
|
2. |
ODGJ berat yang dilayani |
80% |
100% |
Mencapai Target |
|
|
3. |
Jumlah kunjungan Poli Jiwa |
981 |
2959 (1:3) |
Mencapai Target |
|
|
4. |
Umur Harapan Hidup |
77,39 |
77,54 |
Mencapai Target |
|
|
5. |
Indeks Modal Manusia / Indeks Pembangunan Manusia |
84,08 |
85,24 |
Mencapai Target |
|
|
6. |
Indeks Kepuasan Masyarakat |
94% |
97.30% |
Mencapai Target |
Berdasarkan data diatas dapat disimpulkan bahwa peningkatan kualitas pelayanan kesehatan disemarang berhasil melalui inovasi ini dibuktikan dengan Meningkatnya jumlah skrining remaja (Capaian Tahun 2022 : 29%, Tahun 2024 : 70%), hal ini karena remaja melakukan skrining menggunakan Aplikasi Sultan Mataram yang lebih mudah dan dapat di akses kapan saja, meningkatnya kunjungan poli jiwa RSWN (tahun 2022 : 981, di tahun 2024 : 2959 Kunjungan), meningkatnya pelayanan ODGJ (sebelum tahun 2022 80%, tahun 2024 100%), meningkatnya Umur harapan hidup (UHH 2022 : 77.39, tahun 2024: 77,54), meningkatnya indeks modal manusia (IPM Tahun 2022 : 84,08, Tahun 2024 : 85,24).
Inovasi ini selaras dengan Misi Asta Cita ke-4: Memperkuat pembangunan SDM, sains, teknologi, pendidikan, Kesehatan, prestasi olahraga, kesetaraan gender serta penguatan peran Perempuan dan pemuda dan penyandang disabilitas, serta sesuai dengan target kinerja RPJMD Tahun 2021-2026 yaitu Meningkatkan kualitas dan pemerataan pelayanan kesehatan, direalisasikan dengan tercapainya pemeriksaan Kesehatan gratis dengan skrining Kesehatan mental yang mudah di akses oleh remaja sehingga meningkatkan capaian dari 29% menjadi 70%, penanganan ODGJ berat, penurunan angka bunuh diri pada remaja turun di bawah 1.3% per 100 kematian.
Inovasi ini juga selaras dengan Visi Provinsi Jawa Tengah Maju dan Berkelanjutan untuk mendukung Indonesia Emas 2045, ditopang indikator pilar pembangunan daerah transpormasi sosial (JATENG NYAMAN), terwujudnya SDM Jateng yang berdaya saing, berkarakter diukur dengan indikator indeks modal manusia. Dapat di buktikan menurunnya angka bunuh diri 1.3 per 100 kematian, meningkatnya pengobatan ODGJ 100%, pemeriksaan mental gratis bagi remaja menjadi 70?n IPM menjadi 85,24. Peningkatan kualitas RS dengan meningkatnya jumlah kunjungan pada poli jiwa RSWN dengan adanya pelayanan One Stop Service bagi remaja.