Pelangi Nusantara merupakan inovasi Pemerintah Kota Semarang yang dikembangkan sebagai upaya percepatan penurunan stunting dan perbaikan status gizi masyarakat melalui pendekatan terintegrasi pada periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Inovasi ini diselenggarakan berdasarkan amanat Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan, Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting, Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 29 Tahun 2019 tentang Penanggulangan Masalah Gizi bagi Anak Akibat Penyakit, serta berbagai kebijakan nasional terkait Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi dan pembangunan sumber daya manusia. Pelaksanaan inovasi juga mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya tujuan mengakhiri kelaparan, meningkatkan kesehatan, mengurangi kemiskinan, dan mewujudkan kehidupan yang sehat serta sejahtera bagi seluruh masyarakat.
Kota Semarang sebagai ibu kota Provinsi Jawa Tengah memiliki luas wilayah 373,70 km⊃2; dengan karakteristik wilayah perkotaan yang kompleks serta tantangan pembangunan kesehatan yang beragam. Pada tahun 2019 angka kemiskinan Kota Semarang masih mencapai 3,98%. Kemiskinan memiliki hubungan erat dengan status kesehatan dan gizi masyarakat karena keterbatasan akses terhadap pangan bergizi, layanan kesehatan, sanitasi, dan pengasuhan yang optimal. Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan kekurangan gizi pada berbagai kelompok sasaran, mulai dari remaja putri, ibu hamil, bayi, hingga balita. Kekurangan gizi pada masa kehamilan dapat menyebabkan Kurang Energi Kronis (KEK) pada ibu hamil yang meningkatkan risiko melahirkan bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR). Bayi BBLR memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan pertumbuhan, stunting, penurunan imunitas, serta gangguan perkembangan kognitif. Apabila tidak ditangani secara optimal, stunting dapat menyebabkan penurunan kemampuan belajar, produktivitas kerja, dan kualitas sumber daya manusia secara permanen yang pada akhirnya berkontribusi terhadap peningkatan kemiskinan dan pengangguran di masa mendatang.
Berdasarkan hasil pemantauan tahun 2019, Kota Semarang masih menghadapi berbagai permasalahan kesehatan dan gizi pada periode 1.000 HPK. Tercatat terdapat 3.011 ibu hamil KEK atau sebesar 11,9%, sebanyak 834 bayi lahir dengan berat badan rendah atau sebesar 3,51%, sebanyak 2.759 balita stunting atau sebesar 2,98%, serta 149 balita gizi buruk atau sebesar 0,16%. Data tersebut menunjukkan bahwa masalah gizi tidak hanya terjadi pada satu kelompok sasaran, tetapi membentuk suatu siklus yang saling berkaitan mulai dari remaja, ibu hamil, bayi, hingga balita. Selain itu, penanganan yang selama ini dilakukan cenderung masih terfragmentasi antarprogram, berfokus pada balita setelah mengalami stunting atau gizi buruk, serta belum sepenuhnya mengintegrasikan upaya promotif, preventif, kuratif, rehabilitatif, dan pemberdayaan masyarakat dalam satu sistem pelayanan yang berkesinambungan.
Berdasarkan kondisi tersebut, Pemerintah Kota Semarang memandang bahwa stunting dan masalah gizi merupakan isu strategis daerah yang memerlukan penanganan lintas sektor. Permasalahan stunting tidak hanya berkaitan dengan aspek kesehatan, tetapi juga dipengaruhi oleh pendidikan, ketahanan pangan keluarga, sanitasi lingkungan, kondisi sosial ekonomi, pola asuh, serta akses terhadap layanan kesehatan. Oleh karena itu, diperlukan suatu model intervensi yang mampu menjangkau seluruh siklus kehidupan sejak remaja, masa kehamilan, persalinan, bayi, hingga balita secara berkelanjutan. Berangkat dari kebutuhan tersebut, Pelangi Nusantara digagas, diinisiasi, dan diterapkan sebagai inovasi daerah untuk menangani permasalahan gizi secara komprehensif melalui pendekatan Continuum of Care 1.000 HPK dengan sasaran remaja, ibu hamil, bayi, dan balita di Kota Semarang.
Metode pembaruan yang diterapkan dalam Pelangi Nusantara adalah transformasi dari pendekatan penanganan kasus yang bersifat parsial menjadi pendekatan terpadu berbasis siklus hidup (Life Cycle Approach) dengan konsep "Bergerak Bersama". Konsep ini mengintegrasikan peran Dinas Kesehatan, puskesmas, rumah sakit, organisasi profesi, institusi pendidikan, kader kesehatan, pemerintah kecamatan dan kelurahan, serta masyarakat dalam satu sistem penanganan yang terkoordinasi. Inovasi ini mengombinasikan intervensi promotif-preventif, kuratif, rehabilitatif, dan pemanfaatan teknologi informasi sehingga pelayanan tidak hanya berfokus pada pengobatan, tetapi juga pada pencegahan, perubahan perilaku, pemberdayaan keluarga, serta pemantauan berkelanjutan terhadap perkembangan sasaran.
Pelangi Nusantara terdiri atas tiga komponen utama yaitu upaya promotif-preventif, kuratif, dan penunjang. Upaya promotif-preventif dilakukan melalui wisata edukasi gizi dan pemanfaatan kebun gizi dengan sasaran remaja mulai dari jenjang SD hingga SMA. Kegiatan dilaksanakan melalui kunjungan ke Rumah Gizi maupun ke sekolah-sekolah dengan metode pembelajaran yang interaktif, menyenangkan, dan aplikatif melalui praktik langsung, permainan edukatif, simulasi kasus, serta pengenalan prinsip gizi seimbang. Dalam kegiatan ini juga dibentuk Agen Rempah sebagai duta kesehatan sekolah yang berperan mengedukasi teman sebaya sehingga terjadi perluasan dampak edukasi secara berkelanjutan. Selain itu, kebun gizi dimanfaatkan sebagai sarana edukasi ketahanan pangan keluarga dan pemenuhan kebutuhan pangan sehat berbasis sumber daya lokal.
Upaya kuratif dilakukan melalui pelayanan komprehensif bagi balita gizi buruk dan stunting di Rumah Gizi serta optimalisasi tumbuh kembang anak melalui Daycare Rumah Pelita. Pelaksanaan kegiatan diawali dengan pelacakan sasaran oleh Dinas Kesehatan, petugas gizi puskesmas, dan kader posyandu berdasarkan hasil penimbangan dan pemantauan status gizi. Selanjutnya dilakukan verifikasi dan penetapan sasaran melalui rapat koordinasi lintas program dan lintas sektor, dilanjutkan dengan pemeriksaan laboratorium awal serta asesmen kondisi kesehatan secara menyeluruh. Sasaran kemudian mendapatkan intervensi intensif selama enam bulan melalui 15 kali pertemuan yang mencakup pemeriksaan kesehatan, konsultasi gizi, edukasi keluarga, pemberian makanan tambahan, pemantauan tumbuh kembang, serta penanganan faktor penyerta yang memengaruhi status gizi anak. Pada akhir intervensi dilakukan evaluasi melalui pemeriksaan laboratorium ulang dan rapat koordinasi lintas sektor untuk menilai hasil dan keberlanjutan tindak lanjut.
Keunggulan utama Pelangi Nusantara dibandingkan program sejenis adalah keberadaan Rumah Gizi sebagai homebase atau pusat layanan terpadu penanganan stunting dan gizi buruk yang menghadirkan berbagai layanan dalam satu lokasi. Balita mendapatkan pemeriksaan dokter spesialis anak, konsultasi psikologi, pemeriksaan fisioterapi, konsultasi gizi oleh nutrisionis dari PERSAGI, pemberian PMT, pemberian formula F-100, serta pemantauan perkembangan secara berkala. Selain itu terdapat Daycare Rumah Pelita yang secara khusus dirancang untuk memperbaiki pola asuh, meningkatkan stimulasi tumbuh kembang, membentuk kebiasaan makan sehat, dan meningkatkan kemampuan orang tua dalam pengasuhan anak. Pelaksanaan layanan juga didukung keterlibatan puskesmas dalam mengantar dan menjemput sasaran sehingga meningkatkan aksesibilitas bagi keluarga dari berbagai wilayah Kota Semarang.
Kebaruan (novelty) Pelangi Nusantara terletak pada integrasi layanan lintas profesi, lintas sektor, dan lintas tahapan kehidupan dalam satu model pelayanan yang berkelanjutan. Jika program penanganan stunting pada umumnya berfokus pada balita yang sudah mengalami masalah gizi, Pelangi Nusantara melakukan intervensi sejak remaja sebagai calon ibu, ibu hamil, bayi, hingga balita. Inovasi ini juga memadukan layanan tatap muka dengan pemanfaatan teknologi digital melalui aplikasi e-PPGBM untuk pemantauan status gizi bulanan dan aplikasi Sayang Anak untuk pemantauan harian kondisi serta perkembangan balita yang sedang mendapatkan intervensi. Selain itu, penggunaan Mobil Stunting sebagai media edukasi dan promosi kesehatan memungkinkan pelayanan menjangkau masyarakat secara lebih luas, cepat, dan efektif.
Tahapan inovasi Pelangi Nusantara meliputi identifikasi masalah dan pemetaan sasaran berdasarkan data status gizi; pelacakan dan verifikasi sasaran oleh Dinas Kesehatan, puskesmas, dan kader; penetapan sasaran melalui koordinasi lintas program dan lintas sektor; pemeriksaan kesehatan dan laboratorium awal; pelaksanaan intervensi promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif sesuai kebutuhan sasaran; pemantauan rutin melalui kunjungan lapangan dan aplikasi digital; evaluasi hasil intervensi melalui pemeriksaan akhir dan rapat koordinasi; serta tindak lanjut dan pendampingan berkelanjutan untuk memastikan perbaikan status gizi dapat dipertahankan. Melalui pendekatan yang komprehensif, terintegrasi, berbasis data, dan melibatkan berbagai pemangku kepentingan, Pelangi Nusantara diharapkan mampu mempercepat penurunan stunting, gizi buruk, BBLR, dan KEK sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia serta mendukung penurunan kemiskinan di Kota Semarang.
Tujuan Inovasi Pelangi Nusantara
Pelangi Nusantara dikembangkan sebagai inovasi strategis Pemerintah Kota Semarang untuk memutus rantai permasalahan gizi dan stunting melalui pendekatan terpadu pada periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Inovasi ini bertujuan mewujudkan generasi Kota Semarang yang sehat, cerdas, produktif, dan berdaya saing melalui peningkatan status gizi sejak remaja, masa kehamilan, bayi, hingga balita. Dengan mengintegrasikan berbagai program kesehatan, pendidikan, pemberdayaan masyarakat, dan pemanfaatan teknologi informasi, Pelangi Nusantara tidak hanya berorientasi pada penyembuhan masalah gizi yang telah terjadi, tetapi juga pada pencegahan dan pengendalian faktor risiko sejak dini.
Secara khusus, inovasi ini bertujuan menurunkan prevalensi stunting, gizi buruk, bayi berat lahir rendah (BBLR), dan ibu hamil Kurang Energi Kronis (KEK) melalui intervensi yang komprehensif dan berkelanjutan. Pelangi Nusantara juga bertujuan meningkatkan pengetahuan dan perilaku hidup sehat masyarakat, memperkuat pola asuh keluarga, meningkatkan konsumsi pangan bergizi seimbang, serta memperluas akses kelompok sasaran terhadap layanan kesehatan yang berkualitas. Melalui pembentukan Agen Rempah, wisata edukasi gizi, kebun gizi, Rumah Gizi, Daycare Rumah Pelita, Mobil Stunting, serta sistem pemantauan berbasis aplikasi digital, inovasi ini mendorong terjadinya perubahan perilaku yang berkelanjutan baik pada individu, keluarga, maupun masyarakat.
Selain tujuan kesehatan, Pelangi Nusantara dirancang untuk memperkuat sinergi lintas sektor dalam upaya percepatan penurunan stunting. Inovasi ini menjadi wadah kolaborasi antara pemerintah, fasilitas pelayanan kesehatan, institusi pendidikan, organisasi profesi, kader kesehatan, dan masyarakat sehingga tercipta sistem penanganan yang terintegrasi dan tidak berjalan sendiri-sendiri. Dengan pendekatan "Bergerak Bersama", seluruh pemangku kepentingan memiliki peran aktif dalam mendeteksi, mencegah, mendampingi, dan menangani permasalahan gizi pada kelompok sasaran.
Pada akhirnya, tujuan utama Pelangi Nusantara adalah membangun siklus kehidupan yang lebih sehat sejak remaja hingga anak usia dini sehingga mampu menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas. Melalui penurunan stunting dan perbaikan status gizi secara berkelanjutan, inovasi ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan belajar anak, produktivitas masyarakat, serta mendukung penurunan angka kemiskinan dan pengangguran di Kota Semarang. Dengan demikian, Pelangi Nusantara tidak hanya menjadi program kesehatan, tetapi juga investasi jangka panjang dalam pembangunan manusia dan kemajuan daerah.
Manfaat Inovasi Pelangi Nusantara
A. Manfaat bagi Masyarakat
Meningkatkan akses masyarakat terhadap layanan kesehatan dan gizi yang komprehensif, mudah dijangkau, dan berkualitas.
Meningkatkan deteksi dini dan penanganan balita stunting serta gizi buruk secara cepat dan tepat.
Meningkatkan status gizi bayi dan balita melalui intervensi gizi secara komprehensif melalui Rumah Gizi serta pemantauan berkala.
Mendukung pencegahan stunting di masyarakat melalui pendampingan berbasis Continuum of Care pada sasaran 1000 HPK
Mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui perbaikan kualitas sumber daya manusia.
B. Manfaat bagi Instansi
Memperkuat pelaksanaan percepatan penurunan stunting melalui pendekatan Continuum of Care 1.000 HPK.
Memperkuat koordinasi dan kolaborasi lintas program, lintas sektor, lintas profesi, dan lintas perangkat daerah.
Menyediakan model layanan terpadu melalui Rumah Gizi sebagai pusat penanganan kasus stunting dan gizi buruk.
Mendukung pencapaian target indikator kinerja daerah dan target nasional percepatan penurunan stunting.
Mendukung pembangunan sumber daya manusia yang unggul sebagai fondasi pembangunan daerah jangka panjang.
Berikut versi yang lebih kuat sebagai uraian hasil inovasi, dengan penekanan pada capaian terukur, dampak, dan keterkaitan hasil dengan pelaksanaan inovasi:
Hasil Inovasi Pelangi Nusantara
Pelangi Nusantara telah memberikan dampak yang nyata dalam upaya percepatan penurunan stunting dan perbaikan status gizi masyarakat di Kota Semarang melalui pendekatan Continuum of Care 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Sejak diimplementasikan pada tahun 2020, inovasi ini berhasil memperkuat upaya promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif secara terintegrasi sehingga menghasilkan perbaikan berbagai indikator kesehatan dan gizi yang menjadi fokus program.
Pada kelompok sasaran balita, Pelangi Nusantara berhasil mencapai tingkat keberhasilan penanganan balita stunting dan gizi buruk sebesar 77,27%. Keberhasilan tersebut berkontribusi terhadap penurunan prevalensi stunting Kota Semarang dari 2,98% pada tahun 2019 menjadi 1,66% pada tahun 2022 atau turun sebesar 44,30%. Selain itu, prevalensi balita gizi buruk juga mengalami penurunan signifikan dari 0,16% pada tahun 2019 menjadi 0,03% pada tahun 2022 atau turun sebesar 81,25%. Capaian ini menunjukkan bahwa intervensi komprehensif melalui Rumah Gizi, Daycare Rumah Pelita, pendampingan keluarga, serta pemantauan intensif mampu memperbaiki status gizi dan tumbuh kembang balita secara optimal.
Keberhasilan inovasi juga terlihat pada kelompok ibu hamil sebagai sasaran penting dalam periode 1.000 HPK. Prevalensi ibu hamil Kurang Energi Kronis (KEK) berhasil diturunkan dari 11,9% pada tahun 2019 menjadi 7,4% pada tahun 2022 atau mengalami penurunan sebesar 37,82%. Perbaikan status gizi ibu hamil tersebut berdampak pada meningkatnya kesehatan kehamilan dan menurunnya faktor risiko yang berkontribusi terhadap stunting. Hal ini didukung oleh penurunan prevalensi bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) dari 3,51% pada tahun 2019 menjadi 2,24% pada tahun 2022 atau turun sebesar 36,18%.
Pada kelompok remaja, Pelangi Nusantara juga menunjukkan hasil yang positif melalui berbagai kegiatan edukasi gizi, pembentukan Agen Rempah, dan wisata edukasi gizi. Prevalensi anemia pada remaja putri menurun dari 3,76% pada tahun 2019 menjadi 1,95% pada tahun 2022 atau turun sebesar 48,14%. Capaian ini menunjukkan meningkatnya kesadaran dan perilaku remaja terhadap pentingnya pemenuhan gizi sebagai persiapan menuju kehidupan berkeluarga dan kehamilan yang sehat.
Dari aspek pemberdayaan masyarakat dan keberlanjutan program, jumlah Agen Rempah yang terbentuk meningkat lebih dari dua kali lipat, yaitu dari 264 agen pada tahun 2021 menjadi 600 agen pada tahun 2022. Selain itu, jumlah sekolah yang mengikuti kegiatan wisata edukasi gizi meningkat dari 62 sekolah menjadi 105 sekolah pada tahun 2022. Peningkatan tersebut menunjukkan semakin luasnya jangkauan edukasi dan keterlibatan masyarakat dalam upaya pencegahan stunting sejak usia sekolah.
Secara keseluruhan, hasil implementasi Pelangi Nusantara menunjukkan bahwa pendekatan Continuum of Care 1.000 HPK yang terintegrasi, kolaboratif, dan berbasis data mampu memberikan dampak positif terhadap perbaikan status gizi masyarakat. Berbagai indikator utama yang menjadi target program, yaitu prevalensi stunting, gizi buruk, KEK pada ibu hamil, BBLR, dan anemia remaja putri, seluruhnya mengalami penurunan yang signifikan. Bahkan sebagian besar capaian telah melampaui target yang ditetapkan, sehingga Pelangi Nusantara dapat menjadi model praktik baik (best practice) dalam percepatan penurunan stunting dan pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas di Kota Semarang.